Pages

Friday, 7 October 2011

MACAN DAN GAJAH

Kisah yang akan saya coba ceritakan ini adalah sebuah perjalanan dalam kehidupan saya pribadi. Suatu malam, saya dan rekan-rekan lagi berkumpul di Taman Bungkul, saat itu adalah bulan puasa, dan kebetulan adalah malam -malam menjelang berakhirnya bulan romadhon.
Saat itu, salah seorang berkeluh kesah tentang sempitnya rizki yang di dapat hari itu. Maklum salah seorang dari teman kami adalah seorang juru parkir, yang sering kali penghasilannya tidak dapat dapat diprediksi banyak sedikitnya, apalagi kalau lagi sepi parkiran. Sebagai teman, saya berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa sedikit ataupun banyak rizki yang kita terima, hendaklah kita syukuri.
Saya pun mencoba menjelaskan tentang hakikat pemberian atau rizki yang dianugerahkan Sang Maha Cinta kepada hambaNya. Kebanyakan dari kita, akan bersyukur jika kita menerima suatu rizki yang lebih dari Tuhan, sedang jika rizki yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau kurang dari yang kita harapkan, maka kita rasanya sulit untuk mensyukuri. Kenapa demikian ?

Manusia, seringkali memandang pemberian Tuhan dari segi kualitas, yaitu sedikit atau banyak, sehingga jika kita mendapatkan rizki yang banyak maka rasa syukur kita bertambah, sedang jika rizki yang kita dapatkan sedikit, maka rasa syukurnya serasa berkurang dan akibatnya kita sering kurang bisa menerima keadaan tersebut.
Nah, disinilah pointnya.
Seharusnya, pola pandang kita terhadap rizki yang kita terima dari Sang Maha Cinta hendaklah dirubah. Pandanglah pada Sang Pemberi Rizki, yaitu Sang Maha Cinta, jangan engkau pandang pada rizki yang diberikan. Jika yang kita pandang adalah Sang Maha Cinta yang memberikan rizki tersebut, Insya Alloh, kita tak akan sampai hati dan kumowani untuk tidak menerima dengan ridho bahkan berkelauh kesah terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Cinta. Karene, sesungguhnya pemberian Sang Maha Cinta adalah wujud dari Kasih, Sayang dan Adil AgungNya.
Sang Maha Cinta telah mengatur segala alam kehidupan semesta dengan segala Rahmat Kasih dan AdilNYa. Namun kebanyakan dari kita hanya seringkali berkeluh kesah dan jauh dari rasa ridho menerima Qodlo(Kehendak) dan Qodar(Kekuasaan?ketentuan) Sang Maha Cinta.
Saat itu malam semakin larut. Percakapan kamipun semakin lama semakin berkembang pada hal-hal yang berhubungan dengan Qodho dan Qodar.
Samar-samar, saya seolah mendengar auman macan dan suara gajah dari seberang kebon binatang, yang kandangnya mungkin saling berdekatan, dan mungkin saja suaranya malam itu terbawa angin hinga tampak jelas terdengar di telingaku. Auman macan dan suara gajah tersebut seolah berubah menjadi suatu percakapan yang bahasanya seperti yang dilakukan oleh manusia pada umumnya. Aku hanya tersenyum ketika mendengar percakapan mereka.
Mungkin malam itu macan dan gajah saling melakukan curhatnya masing-masing.
Saat itu, gajah bertanya," Wahai, macan! kenapa saat berada di hutan luas diluar sana engkau ini suka membunuh hewan-hewan lainnya dan memangsanya tanpa belas kasih. Bukankah hewa-hewan yang kau bunuh juga memiliki keluarga seperti engkau. Bagaimana seandainya itu terjadi pada anak-anakmu. atau pada anggota keluargamu lainnya?
Aku sempat tertegun mendengar pertanyaan yang tak kusangka sama sekali diajukan gajah pada macan tersebut. Suasana kurasa berubah menjadi hening, sedangkan teman-temanku lainnya sedang asyik menikmati lagu-lagu yang dinyayikan pengamen keliling malam itu sekedar mencari penghasilan tambahan atau sekedar menyalurkan hobby sambil cari duit.
Sayup-sayup kudengar lagi suara dari arah kebun binatang tesebut, yaitu suara macan menjawab pertanyaan sang gajah. "Waha, gajah. Sesungguhnya akupun tak sampai hati untuk melakukan hal tersebut. Jangan kau kira, aku tega dan bangga membunuh hewan-hewan lainnya untuk aku makan bersama kelompokku. Namun, Tahukah kau? Bahwa aku melakukan ini karena inilah Qodho Qodar dari Sang Maha Pencipta dan Maha Cinta yang telah ditetapkan atasku dan akupun tak kuasa untuk menolaknya. Bukankah Dia yang telah mengatur segalanya. Paham ataupun tidak, kita terhadap segala apa yang telah diatur Sang Maha Cinta padaku dan pada mahkluk lainnya, bukankah kita harus taat dan ikhlas menjalaninya ?
Aku semakin tertegun dengan jawaban yang diberikan macam kepada Gajah tersebut. Bahkan lanjut macan, Wahai, gajah, tahukah kamu, bahwa sebagai sesama mahkluknya, sebetulnya akupun iri kepadamu. Kenapa ? Engkau dapat tumbuh besar dan kuat tanpa harus membunuh hewan lainnya untuk menjadi makananmu. Dan Tahukah kamu, bahwa aku pernah sembunyi-sembunyi sendiri dan mencoba makan tumbuhan disekitarku? Namun apa yang terjadi? Tubuhku tak bisa menerima bahkan aku merasakan anh ketika menggigit buah yang sempat menancap di gigiku beberapa saat tanpa bisa aku telan. Aku duduk dan merenungi, hingga aku menyadari bahwa aku hanyalah hamba yang hanya sekedar menjalani apa-apa yang telah di takdirkan Sang Maha Cinta, bahkan ketika saat aku belum diciptakan di dunia ini. Namun aku sempat berbahagia, bahwa kematian mereka , para sahabat hewan-hewan itu adalah jalan ibadah dan pembebasan mereka menuju alam nirwana kita. Gajah, itulah kenapa aku kelihatan tampak buas saat aku mengejar dan memangsa hewan-hewan lainnya. Itu semua semata-mata aku lakukan aku aku menjalani takdirku dengan penuh kesadaran dan keridhoaan. Bahkan keadaan kita sekarang disini, dalam kandang ini, dimana kebebasan kita terbatasi pada dasarnya adalah takdir yang harus kita lalui. Mungkin saja kita akan berada disini hingga saat kematian menjemput kita.
Aku sempat kaget sebentar, saat nyamuk nakal sempat mengganguku dan hinggap tepat di pucuk hidungku, sampai aku mengusirnya dengan kibasan tanganku.
Sebentar, tak kudengar lagi suara gajah, hingga sayup-sayup gajah berkata. Wahai, macan, Sungguh tepat jika engaku dijuluki raja huta. walau sifat rajamu tidaklah melindungi hewan lainnya, namun engkau menjaga keseimbangan bahkan menjalani takdirmu sebagai pengantar mereka menemui Sang Maha Cinta. Akupun tak menyesal jika usai percakapan, aku nantinya menjadi santapanmu, toh pada dasarnya itu adalah salah satu jalan bagiku untuk menemui Sang Maha Cinta yang telah lama aku rindukan, akankah aku menolak untuk bertemu denganNya? Wahai macan terima kasih atas apa yang telah kita curhatkan malam ini. Aku ngantuk, aku mau tidur, dan bangun esok tuk menyongsong kehidupanku yang baru lagi.
" Hei, mul!Bangun, bangun !! Aku tersentak saat aku merasa tanganku ditarik oleh temanku. Wah, Bagaimana kamu ini? Ngajak ke Taman Bungkul cuma pindah tidur. Gawat, gawat, Gajah Makan kawat kamu, itu mul,mul!
Aku cepat terbangun dan tersenyum mendengar ocehan temanku, dan aku bersama teman-temanku akhirnya meninggalkan Taman Bungkul dan pulang. Dalam perjalanan pulangku, aku hanya termangu mengigat percakapan antara Macan dan Gajah malam itu.